I Wanna Be a Womenpreneur

i wanna be a womenpreneur

oleh : Dina Roslaeni

Jadi wirausahawan harus terjun langsung ke dunia bisnis, sebuah judul berita yang meliput seorang Dahlan Iskan, Seorang Dahlan Iskan tak percaya seorang wirausaha bisa lahir dari pendidikan formal. Karena menurut Dahlan, untuk bisa jadi wirausaha harus terjun langsung ke dunia bisnis. Sebagai calon womenpreneur, saya memulai belajar berbisnis dengan mulai menjual barang hasil kulakan sendiri, kemudian saya coba tawarkan kepada teman kantor, ya status saya masih menjadi karyawan kantor, tetapi keinginan berwirausaha kerap kali menggelitik saya untuk mencoba.

Dari bisnis kecil-kecilan yang saya tawarkan di sela-sela istirahat kantor, ternyata hasilnya lumayan, lumayan ada yang membeli maksudnya, walaupun baru satu atau dua orang yang berminat, sampai suatu saat, produk itu laku banyak di saat momen yang pas, mengejutkan, ternyata saya bisa juga jualan. Berbekal sedikit pengalaman itu, saya menjadi terpacu untuk mencoba lagi, kulakan produk lain, tetapi tidak bertahan lama karena tergoda dengan bisnis multi level marketing (mlm) yang ditawarkan seorang teman yang sudah sukses, saya berbelok arah, saya menduplikasi semua ajarannya, merekrut partner baru, menawarkan produk, tetapi hanya dalam hitungan bulan, mlm ditinggalkan, digantikan dengan berjualan onlinedengan sistem dropship,saat itu saya belum berhasil meyakinkan suami sebagai pemberi dana, untuk bisa menyetok barang, karena pengalaman sebelumnya, banyak barang yang tidak terjual. Hasil yang terjual ternyata lumayan lebih banyak daripada offline, tetapi lagi-lagi saya berhenti di tengah jalan.Mencoba satu bisnis ke bisnis lain,meraba-raba bisnis apa yang cocok dengan saya. “Moody-an”, kalau lagi “mood”, semangat bisnisnya, kalau lagi “bad mood”, semangat pun menurun. 

Beberapa kali mengalami kegagalan, saya menyadari beberapa hal dan menemukan jawabannya dalam buku Dian Akbas, “Womenpreneur Checklist” bahwa:

  •  Bisnis yang sukses dijalankan orang lain belum tentu cocok untuk kita, tetapi tak ada salahnya untuk mencobanya asal kita punya planning yang terukur.
  • Jangan berharap sukses dalam “semalam”. Perjalanan bisnis penuh liku. Untuk mencapai kesuksesan bisnis, Anda harus meniti anak tangganya satu per satu.
  • Bisnis merupakan sebuah keputusan niat serius. Anda harus bertanya pada diri sendiri: “Kenapa aku ingin berbisnis?” ,            “Apakah aku sudah siap secara mental ataupun modal?”. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting agar Anda tidak sampai berhenti ditengah jalan karena bosan.
  • Tantangan terbesar dalam bisnis adalah bukanlah pesaing atau yang lainnya, melainkan diri Anda sendiri. Ya, energi dan pikiran negatif yang dapat membuat Anda ragu-ragu, tidak siap, tidak yakin, dan semua hal negatif lain yang dapat menghambat bisnis Anda. Inilah yang harus dihilangkan agar sukses mencapai target.

Segi positif dari kegagalan itu, saya mendapatkan suatu pengalaman dan manfaat yang sangat berharga. Dian Akbas, dalam bukunya, ketika Anda membuat kesalahan, tidak usah panik dan tidak usah mengingat-ngingat kesalahan tersebut. Jadikan kesalahan tersebut sebuah pelajaran berharga. Katakan selalu “aku bisa” atau “aku mampu” ketika harus mengerjakan hal yang sama sekali baru untuk Anda, jangan pernah mengatakan ”tidak bisa” walaupun sebenarnya Anda memang tidak bisa dalam hal tersebut. Coba dulu sebelum Anda berkata seperti itu.

Kegagalan menjual produk orang lain, tidak serta merta menghilangkan keinginan menjadi seorang calon womenpreneur. Saya pun memulai lembaran baru, dimulai dengan memahami konsep 3M (Man, Money, Management) + 1T (Technology), yang secara detail dipaparkan dalam bukunya Dian Akbas.

1. Man (orang), tanyakan pada diri sendiri mengapa ingin mempunyai bisnis dan sebelum mulai terjun ke dalam bisnis, kenali karater pribadi, kemampuan pribadi. Jawaban atas pertanyaan diatas, saya ingin bisa menjadi bos untuk diri sendiri, karena selama ini saya masih menjalani rutinitas kantoran dan ada kalanya saya merasa bosan dengan pekerjaan sekarang.

2. Money (uang/modal), setiap bisnis tentunya memerlukan modal, selama ini saya masih mengandalkan dari tabungan pribadi dan suami, untuk kedepannya seiring dengan berkembangnya usaha, bisa juga melirik modal usaha yang ditawarkan pihak lain. Dian Akbas menggambarkan secara detail, bagaimana cara-cara untuk mendapatkan modal usaha dari pihak lain.

3. Management (Manajemen), menjalankan sebuah bisnis tidaklah mudah, apalagi jika tidak mengerti ilmu untuk menanganinya. 5W 1 H yaitu What, Who, When, Where, Why, How.

  • What kind of business that you want to do?

Berawal dari googling melalui internet, melihat bermacam-macam bisnis yang sudah berjalan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada membisniskan hobi yaitu menyulam. Menyulam pada media boneka, tas, kaos, bantal. Hobi yang sudah lama terpendam tergali kembali. Dari situlah awal mulanya lahir ludinahandmade.

  • Who will be your customers?

Pelanggan bisnis menyulam ini bisa anak-anak dan dewasa.

  • When would you start this business?

Sekitar enam bulan lalu, tepatnya september 2013, saya mulai mengbisniskan hobi.

  • Where is your business will take place?

Saat ini saya melakukan bisnis di rumah, mungkin kedepannya seiring dengan perkembangan bisnis bisa membuat toko dan mengikuti pameran atau bazar.

  • Why do you want to do this kind of business?

Kenapa menjatuhkan pilihan membisniskan hobi menyulam ini, karena ada tantangan didalamnya, mencari ide-ide baru, membuat keunikan dari setiap produk, mengerjakan dengan sepenuh hati, menjadikan produk tersebut spesial. Proses mengerjakan adakalanya memakan waktu yang lama, tetapi melihat karya kita sudah jadi, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri.

  • How do you promote your business?

Saya memulainya dengan mempromosikan kepada orang yang terdekat, teman kantor. Mereka memberikan respon positif dan mereka pun menjadi pelanggan pertama dari produk yang saya hasilkan. Seorang teman mengatakan bahwa setiap barang pasti ada jodohnya, jadi jangan khawatir tidak laku.

4. Technology

Kita patut bersyukur lahir di era internet seperti sekarang, seperti yang dikatakan Dian Akbas dalam bukunya. Semua seperti dipermudah oleh kecanggihan teknologi yang satu ini. Dalam melejitkan bisnis, salah satunya yaitu dengan menggunakan internet sebagai media promosi. Saya memulainya dengan menggunakan yang gratisan, yaitu membuat blog dan membuat fanspage. Melalui media-media tersebut, saya mulai mengenalkan produk yang saya buat. Kita juga bisa memantau bisnis yang dijalankan, dengan handphone yang kita punya, bisa cek dimana saja dan kapan saja. Fasilitas email, chatting sudah tersedia sebagai pendukung dalam menjalankan bisnis.

Dari sekian banyak checklist yang dipaparkan di buku “womenpreneur checklist”, baru sebagian kecil yang sudah saya terapkan, masih banyak PR yang harus saya kerjakan untuk menjadi seorang calon womenpreneur. Tulisan diatas merupakan gambaran usaha yang saya jalankan saat ini dengan segala keterbatasannya, bisnis yang masih kecil dan seumur jagung, tetapi berharap besar kedepannya, sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit. Semoga Bermanfaat 🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest ‪#‎WomenpreneurChecklist‬ “I Wanna Be a Womenpreneur” – yang diadakan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dan STILETTO

Advertisements

6 responses to “I Wanna Be a Womenpreneur

  1. Pingback: I am A Winner | Ludina Handmade

  2. Pingback: Tabur hadiah ikut Writing Contest | Bunda dan Aku

  3. Sukses Teh Dina..makin ditekuni..makin bertumbuh bisnisnya..:)

  4. udah ketemu passionnya nih teh dina.. mugi lancar dan berkah selalu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s